Rabu, 16 Maret 2016
Selasa, 19 Januari 2016
SEJARAH PARUNG KEC.DARMA KAB.KUNINGAN
ASAL-USUL
DESA PARUNG
Tak
kenal maka tak sayang, tak sayang tak mungkin ada rasa cinta, tumbuhnya rasa
cinta karena ada suatu kebanggaan dan rasa memiliki. Setelah merasa memiliki
timbul rasa peduli, kepedulian terhadap para leluhur dan tanah kelahiran merupakan
langkah awal suatu komunitas dalam melaksanakan pembangunan baik pembangunan
fisik material maupun pembangunan mental spiritual. Menurut “Abah Nurhami”
salah satu saksi sejarah seorang warga asli Parung yang sudah berusia hamper
100 tahun mengatakan bahwa, nama Desa Parung berasal dari
Parungpungan/saringsingan(sarang lebah) yang sekarang dikenal dengan nama
Mancagar. Ketika itu ada seorang wali besar yang sangat terkenal dan tersohor
sebagai seorang yang memiliki peranan yang sangat penting. Selain arif dan
bijaksana juga memiliki rasa social yang tinggi terhadap sesama. Karena
kebersihan hatinya Sunan Parung memiliki dan menguasai ilmu putih yang di sebut
ilmu “Supata” (sipahit lidah). Ketika di kejar-kejar oleh 4 keris pusaka
musuh-musuhnya, sunan parung (mbah Saringsingan) memilih menyelamatkan diri
dengan memasuki sebuah tempat bernama parungpungan, sehingga sampai sekarang
terkenal dengan nama Desa Parung.
Sunan
Parung(mbah Saringsingan) berasal dari Ciledug atau Cirebon wetan, beliau
mempunyai 2 orang istri, istri yang tua bernama “Putri Kyai Centra Anik” dan
istri yang muda bernama “Nyi Mas Patuakan”, sunan Parung lebih memilih tinggal
dengan istri muda yaitu Nyi Mas Patuakan(Nyi Runday Kasih). Selain memiliki 2
orang istri, beliau memiliki adik yang bernama “Buyut Soka” suatu ketika sunan
parung menyuruh adiknya untuk melaksanakan shalat ,daripada menuruti perintah
kakaknya maka maka “Buyut Soka” memilih pergi meninggalkan Parung dengan
membuka suatu paguron silat (Pakalangan Anyar) yang sekarang dikenal dengan
Desa Karang Anyar Kecamatan Darma Kabupaten kuningan, karena sunan parung
selalu berpindah pindah, sebagai bukti sejarah makamnya berada di Desa karang
Anyar. Parung terbagi menjadi dua tempat yaitu Lamping Parung dan Sawah Parung
yang berdekatan dengan Ciborelang salah satu dusun di Desa Bakom Kecamatan
Darma. Parung waktu itu terdiri dari 4 Blok yaitu ; Babakan, Karang Tengah,
Hadirudin, dan Mancagar, karena mengalami perkembangan sekarang Desa parung
terdiri dari 2 Rukun warga (RW), RW 1 meliputi Babakan ,Karang Tengah dan
Mancagar, sementara RW 2 meliputi Sukamaju, Sukamulya, Hadirudin dan Suka Asih
yang kesemuanya ada 10RT di Desa Parung.
Nama
Babakan berasal dari kata ngababakan (setiap kegiatan dimulainya dari Babakan),
nama Karang Tengah karena antara Babakan dan Mancagar dibatasi di tengah tengah
maka ada Karang Tengah, sampai sekarang Karang Tengah menjadi penengah dan
penyeimbang dalam segala hal bahkan kuwu(pemimpin Desa) kebanyakan dari karang
Tengah. Nama Hadirudin karena kehadiran seorang yang berpakaian “Rudin” tetapi
memiliki peranan yang penting sehingga ada blok Hadirudin. Sementara Mancagar
merupakan pusat pemerintahan di zaman sunan Parung karena sewaktu beliau
dikejar oleh 4 keris pusaka musuh-musuhnya masuk ke sebuah Parungpungan/Saringsingan
(sarang lebah) atau mancagar sekarang, sehingga dalam mengambil keputusan
mancagar sebagai penentu. Di parung tepatnya di Mancagar dan hadirudin masih
menyimpan misteri yang sampai sekarang masih belum terungkap konon katanya di Mancagar
ada sebuah gunung kecil yang tidak pernah terlihat oleh siapapun dan di
belakang gunung itu terdapat sebuah istana “Pendopo Nyi Mas Patuakan” (Nyi
Runday Kasih) isri mudanya sunan parung (Mbah Saringsingan). Sementara itu di
Hadirudin menurut orang-orang Cirebon terdahulu terdapat 2 ember emas dan susur
mutiara bodas yang ditutupi oleh
kekuatan mistis (ghoib) dan pepohonan bamboo di kebun jambu satar, kalau
kelihatan oleh orang-orang Parung itu menjadi kekayaan berharga bagi Desa
Parung, tetapi sampai saat ini belum ada yang tahu dimana keberadaannya benda
tersebut karena tempatnya tersembunyi dan berubahnya zaman.
Orang-orang yang mempunyai peranan penting di
waktu itu, antara lain : Mbah Grogol (di makamkan di Cipulus), Mbah Tujuh
(dimakamkan di sumur Tujuh Gunungjati Cirebon), Syekh iler (dimakamkan di Kebun
kusin Parung), Buyut sangkir / Buyut Diva (dimakamkan di Mancagar Parung),
Buyut Jammudin (dimakamkan di Mancagar Parung), sementara Nyi Runday Kasih
(dimakamkan di Paninggaran tepatnya di Pasir Pingit). Nyi Runday Kasih bisa
berubah wujud (Mancala Putra Mancala Putri) dan memiliki banyak nama, sehingga
di parung sempat di hebohkan dengan adanya gadis yang sangat cantik dan
berwajah ayu.
Kecantikan
tidak ada tandingannya bernama “Nyi Mas Endang Wangi Kabu” atau nama lainnya
Nyi Mas Baragas dan Nyi Nur Asih yang berada digunung Panenjoan, sejak dahulu
Parung adalah sebuah tempat yang menarik karena berada dikawasan pegunungan
Panenjoan, sebuah desa kecil nan elok yang sekarang menjadi jantungnya
kecamatan darma, masyarakatnya dikenal ramah karena memiliki seorang pemimpin
yang sangat arif dan bijakana yaitu “Sunan Parung” dikala itu. Kemunculan
seorang gadis cantik berwajah ayu, yang kecantikannya tidak ada yang
menandinginyamembuat para lelaki sejati dan para jawara penasaran ingin
bersinggah di parung untuk melihat kecantikan gadis itu dan memilikinya.
Padahal gadis yang bernama Nyi Mas Endang wangi kabu atau nama lain Nyi Mas
Baragas dan Nyi Nur Asih dari Gunung
panenjoan yang cantik itu adalah jelmaan Nyi Runday kasih yang berubah wujud
Mancala Putra muncala putri dan memiliki banyak nama (istri muda sunan parung),
sehingga pada saat itu, “Parung” dijadikan tempat “Ajang ngadu ilmu” (terutama
ilmu yang tidak baik) mencari perhatian agar gadis cantik yang tidak ada
tandingannya tertarik oleh mereka. Sunan Parung yang merasa terganggu terhadap
ulah mereka seperti : Aki Suri, Aki Sihir, Aki Gembro dan Aki Samboyan
menyupata mereka, sehingga Aki Sihir pergi ke Cianjur, Aki Semboyan berubah
menjadi Kayu, Aki Suri berubah menjadi Bonteng Suri(nama sebuah tempat di
Ciledug-Cirebon), sementara Aki Gembro berubah menjadi Batu yang sekarang ada
di Puncak Gunung Panenjoan.
Mbah
Saringsingan (Sunan parung) orangnya suka berkelana dan tidak selalu menetap, dia
berpergian jauh, tempat yang pernah di singgahinya antara lain : Citamba,
gunung Sirah, Karang Anyar dan Darmaloka. Tidak menutup kemungkinan masih
banyak tempat lainnya yang pernah di singgahi. Terjadinya Desa Parung akibat
Mbah Saringsingan (Sunan Parung) terus menerus di kejar oleh 4 keris
musuh-musuhnya dan masuk menembus kesebuah “Parungpungan”, tempat sarang lebah
(saringsingan) sampai sekarang di sebut Sunan parung.
Langganan:
Postingan (Atom)